SABRINA MANAHIJUSSADAT; TESTIMONI; SERBA–SERBI AMALIYAH (BELAJAR MENGAJAR)
LATE POST
TESTIMONI
SERBA–SERBI AMALIYAH
(BELAJAR MENGAJAR)
Kegiatan amaliyatu tadris banyak memberi manfaat kepada para santri kelas 6. Ujian praktik mengajar ini sebagai bekal agar para santri memiliki kecakapan dan pengetahuan tentang bagaimana menjadi guru yang baik. Sepanjang kegiatan tersebut setiap santri memiliki pengalaman berharga. Mulai dari menyiapkan madah hingga menyusun I’dad tadris. Berikut testimoni para santri yang dihimpun Majalah Sabrina.
Putri Cahya Wulan (Kelas 6 IPA)
Guru Tidak Luput dari Kesalahan
What your opinions abaut Teaching Practice (amaliyatu tadris). In my Opinions teaching practice is nervous, hasitate and confused. Perjuangan amaliyatu tadris itu yang berkesan dari bolak balik ke musrifah (pembimbing) empat kali. Tidur jam 2 malam, engga ingat makan. Tapi lapar juga sih hehehe. Pengalaman lainnya kalau lagi bikin I’dad gak mau ada yang ganggu, pinginnya cepat selesai.
Biar persiapannya matang, sampai nekad latihan ngajar sore-sore di kelas atas (Mekkah Madinah). Sengaja praktik di sana karena ada papan tulis besar. Pas lagi latihan serasa jadi guru beneran. Hehe. Tapi ya Allah pas praktik di kelas, dilihat musrifah dan muntaqid, tetap aja banyak kesalahan. Maklum manusia emang tidak lepas dari kesalahan, al-insan mahalul khoto wa nisyan (Manausia itu tempat salah dan khilaf).
Saat intiqodat berlangsung, masih terbayang dalam ingatan saya, ada muntaqid yang ngeritik saya. Dia bilang begini, The teacher didn’t throw the rubbish under the whiteboard. Saya terima kritikan ini. But It’s okey that make me more care the surrounding. Thanks.
Menjadi guru yang baik itu tidak mudah. Itulah hikmah yang saya petik dari pengalaman saya mengikuti teaching practice. Good luck for the next.
Dinna Handini (Kelas 6 IPA 2)
Perjuangan Mengikuti Amaliyatu Tadris
Ketika saya masih kelas 1 Ext, saya bingung apa itu sebenarnya amaliyatu tadris. Sekarang saya baru tahu (setelah ikut amaliyatu tadris) bahwa praktik mengajar itu membutuhkan persiapan yang matang. Dulu, sebelumnya saya pernah berkata enggak mau ikut amaliyah Karen engga mau menjadi guru.
Tapi ketika di kelas 6, bapak pimpinan pondok memberi pengarahan kepada kami bahwa amaliyatu tadris itu wajib diikuti seluruh santri kelas 6. Alasan beliau kenapa amaliyatu tadris itu wajib diikuti, karena setiap manusia apa pun nanti profesinya meskipun tidak menjadi guru tetap akan menjadi guru mengajar keluarganya, teman-temannya, atau anak-anaknya.
Kini pada 20 Januari 2020 giliran saya dapat jadwal praktik mengajar. Rasanya campur aduk; senang takut dan pastinya deg-degan luar biasa. Apa pas ada di kelas serba ga karuan. Pikiran berkecamuk, habis ini apa, setelah itu apa. Wah pokoknya serba takut salah.
Amaliyatu tadris itu butuh perjuangan yang matang. Lelah rasanya bikin I’dad tadris, sampai lupa makan. Belum lagi dicoret-coret sama pembimbing demi islah dan mendapkan tanda tangannya. Semua koreksian pembimbing sangat bermanfaat baik perbaikan diri saya sebagai seorang guru. Selain itu saya dapat wawasan dan pengalaman berharga. Paling tidak ada hikmah dari kegiatan amaliyatu tadris. جرّب ولاحظ تكن عارفا Cobalah dan perhatikan niscaya kamu akan mengetahuinya.
Al-Mudarrisu Kal Malaikah
Bagi saya Amaliyah Tadris merupakan kegiatan yang banyak melatih kesabaran, dimulai dari menerima mata pelajaran yang kadang tak sesuai dengan yang kita inginkan, memperbaiki i'dad yang tidak cukup hanya satu kali balikan. Menulis lagi bila salah setelah dikoreksi. Belum lagi harus bulak-balik ke pembimbing adalah hal yang familier bagi para pejuang Amaliyah.
Hikmah dari kegiatan amaliyatu tadris mengajarkan saya bahwa menjadi guru itu dituntut harus tampil perfect, sempurna layaknya malaikat, al-mudarrisu kal malaikah. Didepan murid-murid, apa pun kesalahan kita didepan mereka itu harus diperbaiki ,hal inilah yang membuat saya "Ya'ta deg-deg setengah mati"
Pengalaman inilah yang menjadi pelajaran bagi kita bahwa kita harus menjadi uswah hasanah bagi murid-murid kita.
Siti Nurfatihah
Menjadi Perfect Teacher
Tentang Amaliyah pasti yang menjadi topik adalah rasa perasaan, kalau ditanya tentang rasa pasti jawabannya "Ya, Nano- Nano"
Emang rasanya campur aduk, nervous tentunya, gemeteran dan tegang. Gimana tidak?
Kita didepan sendirian diperhatikan oleh banyak pasang mata serta tatapan Musyrif yang sangat tajam, setajam silet. Tapi Alhamdulilah di tengah-tengah mengajar kemelut dipikiran saya sudah bisa dinetralisir.
Amaliyah bukan hanya praktek mengajar tapi kita dituntut untuk menjadi Perfect Teacher dengan persiapan yang matang yaitu memahami Metode-Metode mengajar, Materi, pakaian yang kita kenakan juga harus rapi serta ada yang lebih penting dari itu yaitu persiapan mental. Prinsip saya tidak ada amaliyah yang lancar tanpa persiapan yang matang.
Layla Kamila Hq
Nothing Great Ever came Easy
Awalnya saya terlalu percaya diri kalau saya bakal dapat pelajaran bahasa Inggris. Tetapi kenyataannya saya mendapat pelajaran nahwu. Saya hampir frustasi. Belum tadqim (menghadap) ke musrif 2 saja sudah 15 lembah folio yang salah setelah dikoreksi harus ganti 11 lembar.
Alhamdulilah Allah mempermudah itu, di Musyrif pertama hanya 1 lembar kertas yang harus diganti, Jadi total keseluruhan kertas selama membuat i'dad 27 lembar dalam jangka waktu 3 hari.
Di amaliyah, saya tahu betapa pentingnya waktu dan tanda tangan musrif, bulak-balik hanya demi sebuah tanda tangan. Tanggal 19 Januari 2020 adalah hari yang membuat jantung ini tak berhenti berdetak kencang. Alhamdulillah saat mengajar seorang santriwati bisa menjawab pertanyaan saya. Memang, dia adalah malaikat, malaikat tak bersayap, malaikat penolong saya di kelas. I am blessed and i thank god for everthing happens for me. (*)
Ria fadilah
Amaliyah At-tadris is the best Experience
Akhirnya saya bisa merasakan kegiatan amaliyatu tadris yang dulu hanya bisa saya dengar dan ternyata kegiatan itu menguras tenaga dan pikiran.
Pada Sabtu 18 Januari 2020 nama saya dipanggil panitia ujian untuk mempersiapkan amaliyah. Dan pagi itu, Jantung in berdegup kencang luar biasa, karena saya takut mendapatkan maddah tidak sesuai dengan yang diinginkan. Ternyata benar saja dugaaan saya, harapan saya pun ambang ditelan bumi, saya di beri maddah tafsir kelas 2A pada jam ke-2.
Saya berusaha ikhlas dan sabar karena saya percaya dalam Amaliyah At-tadris ini pasti banyak pengalaman luar biasa. Mulai dari belajar mengoreksi guru dalam mengajar, nulis i'dad berlembar-lembar, nguras tenaga bulak-balik sana sini ke Musyif satu ke Musrif dua untuk di koreksi i'dadnya. Belum lagi banyak yang dicoret dari Musyifnya.
Hati ini hampir saja frustrasi tak bertepi, Ngantuk ya harus dipaksa, bergadang yang Tentunya pasti kurang tidur, latihan persiapan buat Amaliyah. Pokoknya luar biasa. Ini adalah budaya pondok yang tak boleh dihilangkan dan harus dirasakan oleh setiap generasi selanjutnya.
Langkah demi langkah saya pijak hingga tibalah jam dan tempat yang dituju, tentunya keringat dingin pun membasahi tubuh ini, belum lagi deg-degan takut a'donya gak bisa jawab apa yang sudah saya jelaskan.
Dan alhamdulilah lancar meskipun saya akui sebagai seorang guru tidak lupus dari kesalahan. Sampai musyif mengeritik saya تبسّمُ بغيْر سببٍ (Tersenyum tanpa sebab). Malu pastinya dong. Tapi musyrif saya baik, mereka membimbing saya hingga hari H. Amaliyah At-tadris is the best Experience. Tak lupa saya ucapkan rasa terimakasih kepada Ustadz Asep Haeruddin dan Ustadz Ahmad Zakiyuddin.
Citra Aulia Salsabila
Amaliyah Yang Bersejarah
Amaliyah Tadris adalah ujian inti dari pada tujuan pendidikan pondok modern. Setakut apapun kita membayangkan Amaliyah tetap tidak bisa dihindari, siapapun yang berada di kelas 6 pastilah akan merasakannya.
Tujuan Amaliyah adalah untuk menanamkan pada diri kita agar kita memiliki jiwa pendidik, walaupun tidak semua memiliki/berkeinginan menjadi seorang guru, setidaknya kita akan menjadi seorang pendidik di rumah nanti.
Kegiatan amaliyatu tadris sangat berkesan pada diri saya. Sabtu, 25 Januari 2020 adalah hari yang bersejarah, takkan bisa dilupakan karena hari itu adalah hari yang dulu selalu terbayang-terbayang, bisakah aku?––pikirku dalam hati –– mampukah aku?
Dan terjawab sudah pada hari itu, hari di mana aku diuji menjadi seorang guru yang sempurna dengan segala persiapan yang matang walaupun hanya 3 hari. Di hari itu aku mendapatkan materi Mutholaah dengan judul ahobiyu wal fiilu الصبي والفيل yang menceritakan tentang seorang anak kecil yang menjahili gajah di kebun binatang.
Kendala yang kurasa pada saat itu adalah aku mengajar di kelas yang memang kebanyakan dari mereka baru belajar dan mengenal bahasa Arab. Jadi, aku sempat pesimis serta khawatir banyak yang tak paham namun aku coba singkirkan semua benak itu. Banyak cerita yang tak bisa di ungkapkan melalui Amaliyah Tadris ini, walaupun di awal mengajar aku merasakan rasa dag dig dug ditambah musyrif yang duduk memantau kita dari belakang setelahnya aku merasa rileks dan enjoy semua berjalan bagaikan air yang mengalir.
Terimakasih kuucapkan pada kedua musyrifku yaitu Ustadz M. Nasrun Saragih, S.Th.I dan Ustadzah Werdatiyana, S.Pd. (*)







Komentar
Posting Komentar