Guru Terpaksa, Guru Sekedar dan Guru Pejuang; Wacana Publik; Majalah Sabrina Manahijussadat

  Wacana Publik; Sabrina Manahijussadat 

                 GURU TERPAKSA, GURU SEKEDAR DAN GURU PEJUANG

Oleh Ustadz Furqan Syafrizal S.Th.I

 

Allah Swt berfirman dalam  dalam Al kahfi ayat  65 :

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا ءَاتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.

     Guru  adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

     Guru tidak hanya sebagai profesi. Jauh dari itu seorang guru menjadi hamba pilihan Allah untuk memperkenalkan tentang ketuhanan.  Apa yang disampaikan menjadi ibadah. Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda, 

من دل على خير فله مثل أجر فاعله.

"Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya."

     Maka sebagai guru seharusnya memiliki motivasi tinggi. Tidak menjadi guru yang terpaksa atau hanya sebatas menjadi sekedar guru. Jauh dari itu harus menjadi guru pejuang.

     Efek dari guru terpaksa ia hanya akan kecewa dan mengecewakan. kecewa terhadap dirinya sendiri. Dan mengecewakan orang yang telah percaya kepada dirinya. Pembawaan dari sifat ini adalah sesuatu yang ia lakukan bukan dasar sungguh sungguh. Sifatnya  tidak mengerjakan sepenuh hati. Integritasnya tidak ada.   Bisa jadi ketika ia memiliki tanggungjawab mengajar ia tidak mengajar, atau sering terlambat datang ke kelas.

   Begitupun bagi guru sekedar ia berbuat sebatas selesai dari kewajiban mengajar. Hubungannya dengan murid sebatas di kelas. Mungkin jika ia mendapatkan muridnya di luar kelas tidak baik, si guru itu hanya diam saja. Karena motivasinya sekedar mengajar di kelas. Tipe guru seperti ini tidak memiliki sejarah dalam kehidupan anak. Mungkin sekedar transfer ilmu. Bukan membentuk kepribadian murid.

Dan ia pun  mendapatkan sekedar saja. Jika terpaksa tadi ia tidak mau berbuat, ini hanya berbuat asal lepas dari tanggungjawab. Tidak memiliki inisiatif bagaimana membuat murid-muridnya lebih berharga dari segalanya. 

Berbeda dengan guru pejuang, motivasinya tinggi. Dia melihat anak muridnya adalah sosok masa depan yang hrus lebih baik dari dirinya. Maka ia perjuangkan. Bahkan sampai harta, tenaga, pikiran mungkin setingkat nyawa untuk kebaikan si anak didiknya. Ia akan korbankan waktunya, perasaannya demi kepentingan anak didik tersebut. Walaupun dengan segala keterbatasan yang ada tidak membuat dia kecil hati. Bahkan ia akan berbuat dengan mengada-ada. Menjadikan kekurangannya sebagai kelebihan. 

Seorang santripun bisa menjadi santri terpaksa, santri sekedar dan santri pejuang. Tergantung motivasi dan pemahamannya kenapa ia menjadi santri. Akhirnya mereka akan mendapatkan sesuai apa yang mereka pikirkan dan lakukan. 

Margaret Hilda Thatcher adalah seorang politikus Britania Raya, Perdana Menteri Britania Raya dengan masa jabatan terlama sepanjang abad ke-20, dan satu-satunya wanita yang pernah menduduki jabatan tersebut mengatakan, Watch your thought for they become your word. Watch your word for they become your actions. Watch your action for they become your habit. Watch your habit for they become your character. Watch your character for they become your destiny. 

Ungkapan di atas menegaskan kepada kita bahwa semua bermula dari apa yang dipikirkan. Sehingga menjadi kata-kata yang sering keluar dari mulutnya. Kemudian akan menjadi perbuatan. Dan perbuatan itu akan menjadi kebiasaan (habit). Kebiasan tersebut akan menjadi sebuah karakter (pembawaan diri). Kemudian itulah nilai dari kualitas seseorang tersebut. 

Maka jangan salahkan jika kita memiliki pola pikir, sikap dan tingkah laku kita belum benar akan ada hal hal baik ke depannya. Inilah yang seharusnya menjdi motivasi seorang guru, murid dan semua  profesi yang dilakukan. 

Allah Swt berfirman dalam surat al-ankbut 69 :

وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

     "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." 

Ayat ini menunjukkan motivasi pejuang bahwa orang yang paling pantas diberi taufiq kebenaran adalah ahlul jihad. Karena siapa saja yang berbuat ihsan dalam hal yang diperintahkan, maka Allah akan menolongnya dan Allah akan mudahkan baginya sebab-sebab mendapatkan hidayah. Siapa saja yang bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam ta'liimul ilmi syar’i, maka akan sampai kepadanya Al hidayah (petunjuk) dan Al ma’unah (pertolongan) untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Demikian ini adalah urusan dan kuasa Allah Swt.

 Semua orang mengerjakan profesinya, atau suatu pekerjaan sesuai motivasi dan seberapa paham ia akan hal tersebut. Istilah yang sering kita dengar "sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keintunganmu". Ini adalah filosofi yang sering diajarkan kepada santri-santri agar ia bisa berbuat dengan sungguh-sungguh. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memakmurkan Masjid; Tausiyah; Sabrina Manahijussadat

PENERIMAAN SANTRI BARU PONDOK PESANTREN MODERN MANAHIJUSSADAT CIBADAK RANGKASBITUNG KAB. LEBAK - BANTEN TAHUN PELAJARAN 2023-2024